Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan referen fakta sosial yang diacu dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari dan mendeskripsikan struktur fakta sosial dalam novel Pasung Jiwa Karya Okky Madasari. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah deskriptif. Data dalam penelitian ini berbentuk kata-kata mengenai interaksi sosial yang dibangun tokoh utama dan tokoh lainnya dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari, referen fakta sosial dan kondisi sosial dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari, dan hubungan relasional kenyataan sosial yang diacu dengan peran sosial pada novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Sumber data penelitian ini adalah novel Pasung Jiwa  yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama tahun 2013 dengan tebal buku 321 halaman. Hasil penelitian dan pembahasan, Fakta sosial yang diacu dalam masyarakat Indonesia mengenai 3 aspek sosial, yang pertama Hukum. Hukum Indonesia tidak memberikan jaminan perlindungan bagi setiap pelaku transgender, dari segi agama, transgender adalah perbuatan dosa dan tidak diterima oleh masyarakat beragama, yang terakhir dari segi kebudayaan ada dua golongan masyarakat yaitu yang masih memegang erat kebudayaan timur yang berlandaskan agama yaitu islam menolak transgender sedangkan sebagian masyarakat modernisasi yang telah mengikuti budaya  barat menerima transgender dengan alasan kesetaraan hak azazi manusia. Struktur sosial yang terdapat dalam novel Pasung Jiwa menunjukkan adanya penolakan dari segi hukum dengan terjadinya menyiksaan dan pelecehan yang dilakukan oknum tentara dan tidak mendapatkan keadilan bagi tokoh utama yang merupakan transgender. Struktur sosial selanjutnya menunjukan penolakan dari Agama, yaitu dengan terjadinya diskriminasi terhadap tokoh utama transgender dengan menghakimi dan menyiksa dengan alasan berjihad di jalan Tuhan. Yang terakhir yaitu struktur sosial yang menunjukan sikap berdasarkan kebudayaan, ada dua masyarakat yaitu kaum yang menerima tokoh utama selaku transgender dengan mengapresiasi penampilannya sebagai pekerja seni dan sebagian lagi yang justru menentang dengan perlakuan buruk mencibir dan mentertawakan