Abstract

Masyarakat tradisional cenderung memiliki perspektif ekosentris dibandingkan dengan masyarakat modern. Hal ini karena masyarakat tradisional masih memegang teguh kearifan lokal yang berkembang dalam komunitasnya. Dengan nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijaga dan dilestarikan, terutama kearifan lokal yang berkaitan dengan lingkungan, akan memungkinkan terjaga dan telestarikannya keindahan lingkungan dan keseimbangan alam/ekosistem. Selain itu, akan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sehingga ketika lingkungan mulai dirusak oleh pihak luar, masyarakat akan melakukan penentangan dan perlawanan. Permasalahan tersebut terepresentasi dalam novel-novel Indonesia kontemporer yang terbit dalam rentang tahun 2013 – 2016 yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan representasi keindahan dan kesadaran lingkungan dalam prosa Indonesia kontemporer (2013 – 2016). Analisis dalam tulisan ini didasari kajian ekokritik. Berdasarkan hasil penelitian, keindahan lingkungan terepresentasikan melalui keindahan pantai, laut, terumbu karang, sawah, gunung, sungai, hutan, dan flora dan fauna, sementara kesadaran lingkungan dibuktikan melalui kepedulian tokoh cerita terhadap keberadaan terumbu karang, sungai, hutan, flora dan fauna. Kesadaran lingkungan dimiliki oleh tokoh cerita yang memiliki perspektif ekosentris dan memegang teguh kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh leluhur mereka. Selain itu, kesadaran lingkungan dibuktikan melalui perlawanan tokoh cerita kepada pihak luar yang mengeksploitasi sumber daya alam dan merusak keseimbangan ekologis di wilayahnya.